SUBYEKTIVISME & OYEKTIVISME
Subyektivisme
Arti = Pengetahuan dipahami sebagai keyakinan yang dianut oleh individu.
Ciri-ciri Pendekatan Subyektivisme :
- Menggagas pengetahuan sebagai suatu keadaan mental yang khusus, seperti kepercayaan yang istimewa.
- Pengalaman subyektif (kokoh terjamin) sebgaia titik tolak dari data inderawi diri sendiri.
- Prinsip subyektif tentang alasan cukup, karena pemngalaman yang bersifat pribadi, benar secara pasti dan meyakinkan karena berlaku sebagai pengetahuan yang langsung dari subyeknya.
- Menurut Rene Descartes => "Cogito ergo sum cogitans" : "Saya berfikir maka saya ada" maksudnya adalah kalau kita melihat, mendengar, merasa, senang atau sakit, kehendak (seluruh kegiatan sadar) masuk dalam kegiatan "berpikir."
- Menurut Realisme Epistemologis => Berpendapat bahwa kesadaran itu menghubungkan "saya" dengan "apa yang lain" dari "saya"
- Menurut Idealisme Epistemologis => Berpendapat bahwa setiap tindakan mengetahui berakhir di dalam suatu ide, yang merupakan suatu peristiwa subyektif murni.
- Bahwa semua pengetahuan tentnag sesuatu "yang bukan aku" atau "yang diluar diri sendiri" harus diragukan kebenarannya. Karena pengetahuan yang bukan "aku" merupakan pengetahuan yang tidak langung.
- Sikap dasar skeptisisme adalah kita tidak pernah tau tentang apapun.
- Menurut penganut skeptisisme musathil manusia mencapai pengetahuan tentnag sesuatu, atau paling kurnag manusia tidak pernah merasa yakin apakah dirinya dapat mencapai pengetahuan tertentu.
- Skeptisisme mergu-ragukan kemungkinan bahwa manusia bisa mengetahui sesuatu karena tidak ada bukti ynag cukup kalau manusia benar-benar tahu akan sesuatu.
- Baginya rasio/pikiran adalah satu-satuny sumber dan jaminan kebenaran pengetahuan
- Descartes mergaukan pengalaman inderawi dalam menjamin kebenaran pengetauhan, termasuk pengetahuan tentag dunia luar kita.
- Menurut Descartes bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa dapat saja secara lansung memunculkan data-data indra dalam kseadaran kita tanpa harus ada "dunia luar" yang menjadi dasar. Indera dapat memberi pengetahuan tentang dunia fisik yang dapat dipercayai.
- Keberadaan atau pengetahuan mengenai "yang lain" atau "yang bukan diri sendiri" hanya dapat disimpulkan secara tidak langsung dari kebenaran dan pengetahuan mengenai diri sendiri.
- Keberadaan sesuatu di luar diri atau "yang bukan aku" dalam pengalaman sehari-hari seperti gejala dari bahasa. Berkaitan dengan gejala bahasa bahwa melalui pengalaman sehari-hari terjadinya dialog, yang mengandaikan adanya orang lain. Dalam keseluruhan proses dialog adanya subyek lain atau dia yang menjadi lawan bicaraku.
Arti = Suatu pandangan yang menekankan bahwa butir-butir pengetahuan manusia - dari soal yang sederhana sampai teori yang kompleks, yang mempunyai sifat dan ciri yang melampaui keyakinan dan kesadaran individu.
Pengetahuan diperlakukan sebagai sesuatu yang berada di luar dibandingkan yanga da di dalam pikiran manusia tersebut. Pandangan ini didukung oleh : Popper, Latatos, dan Marx.
- Obyektivisme merupakan pandangan bahwa obyek yang kita persepsikan melalui perantara indera kita itu ada dan bebas dari kesadaran manusia.
- Obyektivisme beranggapan bahwa pada tolak ukur suatu gagasan berada pada objeknya.
- Obyektivisme diartikan sebagai pandangan yang menganggap bahwa segala sesuatu yang di fahami adalah tidak tergantung pada orang yang memahami.
- Kebenaran itu independen terlepas dari pandang subjektif.
- Kebenaran itu datang dari bukti yang faktual
- Kebenaran hanya bisa didasari dari pegalaman inderawi.
Pengetahuan dalam pengertian Obyektivis:
- Sepenuhnya indepneden dari kalim untuk mengetahuinya
- Pengetahuan itu terlepas dari keyankianan seseorang/ kecenderungan untuk menyetujuinya atau memakainya untuk bertindak.
- Pengetahuan dalam pengertian obyektivis adalah pengetahuan tanpa orang: ia adalah oengetahuan tanpa diketahui subjek". (Karl R. Popper)
- Obyek-obyek memiliki kualitas-kualitas yang sama seperti yang disajikan kepada persepsi, sehingga tindakan persepsi tidak mengubah sedikitpun obyek tersebut.
Para Filsuf Sokratik menganggap perlu untuk kita memperbaiki beberapa keyakian harian kita, yaitu: meletakkan "kesalahan" pada indera, karena sebenarnya indera tidak pernah salah.
Untuk mempercayai kebenaran kesaksian inderawi, beberapa syarat harus dipenuhi:
- Obyek harus sesuai dengan jenis indera kita.
- Organ indera harus normal dan sehat.
- Karena Obyek ditangkap oleh medium, maka medium itu harus ada.
Obyek Umum yaitu data yang dapat ditangkap oleh lebih dari satu indera. Seperti = Keluaan dan gerakan yang dapat dilihat dan diraba atau oleh indera lainnya.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar