Selasa, 23 September 2014

Kesesatan (Fallacia) & Silogisme (Pertemuan kelima)

KESESATAN
Definisi = Kesalahan pemikiran dalam logika, bukan kesalahan fakta, tetapi kesalahan atas kesimpulan karena penalaran yang tidak sehat. 
Kesalahan fakta: P residen AS Barack Obama lahir di Indonesia. Ahmad lahir dengan bintang gemini, maka hidupnya penuh dengan persoalan. 
Kesalahan Penalaran -> Klasifikasi = Kesesatan formal dan Kesesatan informal.
  • Kesesatan formal : pelanggaran terhadap kaidah logika. 
  • Kesesatan informal : menyangkut kesesatan dalam bahasa.
1. Amfiboli = Kesesatan karena struktur kalimat bercabang. Misalnya : Anto Anak Bu Lasma yang hilang ingatan lari dari rumah.
2. Aksen / Prosodi = Kesesatan karena penekanan yang salah dalam pembicaraan. Misalnya : Ada aturan "Anda tidak boleh ganggu anak tetangga", Nah Pak Budi bukan tetangga anda. Maka anda boleh menganggu. 
3. Kesesatan bentuk pembicaraan = Sesat krn org menyimpulkan kesamaan konstruksi juga berlaku bagi yang lain. Misalnya :  Berpakaian artinya memakai pakaian. Bersepeda artinya memakai sepeda. Maka, beristeri artinya memakai isteri.

4. Aksiden: Yang aksidental dikacaukan dg hal yang hakiki. Misalnya :  Sawo matang adalah warna. Org Indonesia itu sawo matang. Maka, Org Indonesia itu adalah warna. 
5. Kesesatan krn alasan yg salah: Konklusi ditarik dr premis yg tak relevan.
 
Kesesatan Presumsi

Generalisasi tergesa-gesa: Orang Padang pandai memasak.
1. Non sequitur (belum tentu) = Memang saya tidak lulus karena beberapa hari yang lalu saya berdebat denga dosen tersebut.
2. Analogi palsu = Membuat isteri bahagia seperti membuat hewan piaraan bahagia dengan membelai kepalanya dan memberi banyak makan.
3. Penalaran melingkar (Petitio Principii) =  Manusia merdeka krn ia bertanggungjawab dan ia bertanggungjawab krn ia merdeka.
4. Deduksi cacat = Barangsiapa sering memberi sumbangan, maka dia pasti org baik. Andi pasti orang baik.
5. Pikiran simplistik = Karena ia tidak beragama, maka ia pasti tidak bermoral.

Menghindari Persoalan
Ø  Argumentum ad hominem :  Jangan percaya omongannya krn ia bekas narapidana.
Ø  Argumentum ad populum :  Anda lihat banyak ketidakadilan dan korupsi, maka Partai Nasdem adalah partai masa depan kita

Ø  Argumentum ad misericordiam :  Seorang terdakwa meminta keringanan hukuman karena mengaku punya banyak tanggungan. 

Ø  Argumentum ad baculum :  Karena beda pendapat, suka meneror orang lain.

Ø  Argumentum ad auctoritatem :  Mengutip pendapat Freud mengenai psikoanalisa.

Ø  Argumentum ad ignorantiam :  Bila tidak bisa dibuktikan bahwa Tuhan itu ada, maka Tuhan tidak ada.

Ø  Argumen utk keuntungan seseorang :  Seorang pengusaha berjanji mau membiayai kuliah, bila mahasiswi mau dijadikan isteri.

Ø  Non causa pro causa :  Orang sakit perut setelah menghapus sms berantai, maka dia menganggap itu sebagai penyebabnya.

Kesesatan Retoris
a)      Eufemisme/disfemisme : Pembangkang yang dianggap benar disebut reformator. Bila tidak disenangai maka disebut anggota pemberontak.

b)      Penjelasan retorik: Dia tidak lulus karena tidak teliti mengerjakan  soal.

c)       Stereotipe : Orang Jawa penyabar. Orang Batak suka menyanyi.

d)      Innuendo : Saya tidak mengatakan makanan tidak enak, tapi mau mengatakan lukisan itu bagus.

e)      Loading question : Apakah Anda masih tetap merokok?

f)       Weaseler : Tiga dari empat dokter menyarankan bahwa minum itu memperlancar pencernaan.

g)      Downplay : Jangan anggap serius omongannya karena dia hanya buruh bangunan.

h)      Lelucon/sindiran

i)        Hiperbola : membesarbesarkan.

j)        Pengandaian bukti : studi menunjukkan.

k)      Dilema semu : Tamu yg menolak kopi, langsung disuguhi sirup.

SILOGISME


Silogisme = suatu simpulan dimana dari dua putusan (premis2) disimpulkan suatu putusan yg baru. Prinsip: bila premis benar, maka simpulannya benar.
Dua macam silogisme: Silogisme Kategoris dan Silogisme Hipotetis.

SILOGISME KATEGORIS
Arti : silogisme yg premis dan simpulannya adalah putusan kategoris (pernyataan tanpa syarat).
Contoh: M – P  Perbuatan jahat itu haram.
             S – M Menghina itu adalah perbuatan jahat.
             S – P  Maka, menghina itu haram.
 = Bila penalaran baik, silogisme memperlihatkan alasan dan dasarnya.
•       Silogisme kategoris tunggal : Mempunyai dua premis, terdiri atas 3 term S, P, M.
•       Bentuk-bentuk silogisme kategoris tunggal:
-          M adalah S dalam premis mayor dan P dalam permis minor. Aturan : Premis minor harus sebagai penegasan, sedang premis mayor bersifat umum.
Misalnya :  M – P Setiap manusia dpt mati (mayor) 
                  S – M Aristoteles adalah manusia (minor) 
                  S – P Jadi, Aristoteles dpt mati (simpulan)
-          M jadi P dalam premis mayor dan minor. Aturan :  Salah satu premis harus negatif. Premis mayor bersifat umum.
Misalnya : P – M Lingkaran adalah bentuk bundar (mayor)
    S – M Segitiga bukan bentuk bundar (minor)
    S – P Segitiga bukan lingkaran (simpulan)
-          M menjadi S dalam premis mayor dan minor. Aturan : Premis minor harus berupa penegasan  dan simpulannya bersifat partikular.
Misalnya : M-P Mahasiswa itu org dg tugas belajar (Mayor)
                M-S Ada mahasiswa yg org bodoh (minor)
                S-P Jadi, sebagian org bodoh itu org dg tugas belajar (Simpulan)

-          M adalah P dlm premis mayor dan S dlm premis minor. Aturan: premis minor hrs berupa penegasan, sedangkan  Simpulan bersifat partikular.

Misalnya : P – M Influenza itu penyakit (mayor)
                            M- S Semua penyakit mengganggu kesehatan (minor)
                            S-P  Jadi, sebagian yg mengganggu kesehatan itu influenza (simpulan)

SILOGISME  KATEGORIS MAJEMUK
•       Arti : bentuk silogisme yang premis-premisnya sangat lengkap, lebih dari tiga premis. Jenis-jenisnya:

a. Epicherema: silogisme yg salah satu/kedua premisnya disertai alasan.
Contoh : Semua arloji bermutu adalah arloji mahal, krn sukar pembuatannya.
                Arloji Mido itu adalah arloji baik, krn selalu tepat dan awet.
                 Jadi, arloji Mido adalah arloji mahal.

b. Enthymema : Silogisme yang dalam penalarannya tidak mengemukakan semua premis secara eksplisit. Salah satu premis/simpulannya dilampaui, disebut juga silogisme yang disingkat. Misalnya: Jiwa manusia adalah rohani. Jadi, tidak akan mati (versi singkat).
Contoh : Versi lengkap: Yg rohani itu tdk akan dpt mati.
              Jiwa manusia adalah rohani.
              Maka, jiwa manusia tdk akan dpt mati.

c. Polisilogisme: Deretan silogisme dimana simpulan silogisme yang satu menjadi premis untuk silogisme yang lainnya.
Contoh : Seseorg yg menginginkan lebih dr yg dimiliki, merasa tdk puas. Seorang yang rakus adalah seseorg yg menginginkan lebih dr yg dimiliki. Jadi, seorg yg rakus merasa tdk puas.
Seorg yg kikir merasa tdk puas. Budi adalah seorg yg kikir.
Jadi, Budi merasa tidak puas.
d. Sorites : Silogisme yang premisnya lebih dari dua. Putusan-putusan itu dihubungkan satu sama lain sedemikian, sehingga predikat dari putusan yang satu jadi subjek putusan berikutnya.
Orang yg tidak mengendalikan keinginannya, menginginkan seribu satu barang.
Org yg menginginkan seribu satu barang, banyak sekali kebutuhannya. Org yg banyak sekali kebutuhannya, tdk tenteram hatinya. Jadi org yg tdk mengendalikan keinginannya, tdk tenteram hatinnya.
 
Hukum Silogisme Kategoris (tentang isi dan luas S dan P)

A. Silogisme tidak boleh mengandung lebih dari tiga term (S, M, P). Kurang dari tiga berarti tidak ada silogisme. Lebih dari tiga term artinya tidak ada perbandingan. Ketiga term tetap sama artinya. Dalam silogisme S dan P disatukan oleh perbandingan masing2 dengan M.

B. M tidak boleh masuk dalam kesimpulan, karena M berfungsi mengadakan perbandingan dengan term-term.

C. Term S dan P dalam simpulan tidak boleh lebih luas dari premis-premisnya. Jika S dan P dalam premis partikular, maka dalam simpulan tidak boleh universal. Bila dilanggar akan terjadi latius hos (menarik simpulan yang terlalu luas). Misalnya: Semua lingkaran bulat. Nah, semua lingkaran itu gambar. Maka, Semua gambar itu bulat. (Simpulan salah, mengapa? Bagaimana yang benar?)

 

Konfirmasi, Inferensi & Konstruksi Teori (Pertemuan Keempat)

KONFIRMASI

 Confirmation (Inggris) : penegasan, memperkuat.
Berhubungan dengan filsafat ilmu, maka fungsi ilmu pengetahuan adalah menjelaskan, menegaskan, memperkuat apa yang didapat dari kenyataan/ fakta. Sifatnya lebih interpretatif dan memberi makna tentang sesuatu.
Ada 2 aspek dalam konfirmasi : Kuantitatif dan Kualitatif.
  • Konfirmasi Kuantitatif : untuk memastikan kebenaran, ilmu pengetahuan mengemukakan konfirmasi aspek kuantitatif. Misalnya : membuat penelitian dengan mengumpulkan sebnayak mungkin sampel, yang akhirnya membuat suatu kesimpulan yang bersifat umum (generalisasi)
  • Konfirmasi Kualitatif : ada kalanya ilmu pengetahuan membutuhkan konfirmasi kualitatif untuk menunjukkan kebenaran. Mungkin karena konfrimasi kuantiatif tidak bisa dilaksanakan, maka harus menjalankan konfirmasi kualitatif. Misalnya : dalam penelitian yang menjalankan model wawancara mendalam (depth interview)
CATATAN : 
  • Konfirmasi berupaya mencari hubungan yang normatif antara hipotesis (kesimpulan sementara) yang sudah diambil dengan fakta-fakta (evidensi). Misalnya hipotesis : besi bila dipanaskan akan memuai. Apakah ini sesuai dnegan fakta? Bila sesuai maka hipitesis meneguhkan (konfirmasi) ilmu pengetahuan tentang besi.
3 Jenis Konfirmasi :   
  1. Decision theory = kepastian berdasarkan keputusan "apakah hubungan antara hipotesis dengan fakta punya manfaat aktual'?
  2. Estimation theory = menetapkan kepastian dengan memberi peluang benar-salah melalui konsep probabilitas. Mislanya adalah statistik.
  3. Reliabillity theory = menetapkan kepastian dengan mencermati stabilitas fakta/ evidensi yang berubah-ubah terhadap hipotesis.
INFERENSI 
Inferensi memiliki arti penyimpulan. Penyimpulan diartikan sebagai proses membuat kesimpulan (conclution). Dengan demikian, inferensi dapat didefinisikan sebagai suatu proses penarikan konklusi dari satu atau lebih proposisi (keputusan).

Jenis Inferensi :  
  • Di dalam logika, proses penarikan konklusi dapat dilakukan melalui dua cara. Yakni cara deduktif dan induktid. Mengingat 2 cara tersebut kemudian dikenal istilah inferensi deduktif dan inferensi induktif. 
  • Inferensi Deduktif terbagi atas 2 jenis yaitu, inferensi Langsung dan Inferensi Tidak Langsung. Infersensi Tidak Langsung disebut juga sebagai Inferensi Silogistik.
A. Inferensi Langsung ialah penarikan kesimpulan hanya dari sebuah premis. Premis yaitu data, bukti, atau dasar pemikiran yang menjamin terbentuknya kesimpulan.
B. Inferensi Tidak Langsung ialah penarikan kesimpulan memakai 2 premis. Konklusi tidaklah umum dari pada premis-premisnya. Predikat konklusi diesbut term mayor, sedangkan subyek konklusi disebut term minor. Premis yang mengandung term mayor disebut premis mayor, sedangkan premis yang mengandung term minor disebut premis minor.

Semua manusia adalah fana (term mayor)
Premis Mayor
Semua cendekiawan adalah manusia (term minor)
Premis Minor
Semua cendekiawan adalah fana
Konklusi
 Hukum Inferensi : 
- Kalau premis-premis benar, maka kesimpulan benar.
-Kalau premis-premis salah maka kesimpulan dapat salah, dapat kebetulan benar.
-Bila kesimpulan salah, maka premis-premis juga salah.
-Bila kesimpulan benar, maka premis-premisnya dapat benar, dapat juga salah.

KONSTRUKSI TEORI
KBBI = Pendapat yang dikemukakan sebagai keterangan tentang suatu peristiwa.
Miarso = "Jendela" untuk mengamati gejala yang ada, dan berdasar data empiris berhasil dianalisis dan disintesiskan.

Bagaimana Teori Berkembang? 
  1. Animise : fase percaya pada mitos.
  2. Ilmu Empiris : tolak ukur ilmu paling sederhana adalah pengalaman, klasifikasi, penemuan hubungan-hubungan, perkiraan kebenaran.
  3. Ilmu Teoretis: gejala yang ditemukan dalam ilmu empiris diterangkan dengan kerangka pemikiran.
Konstruksi teori dibangun dengan : 1) Abstraksi generalisasi
                                                         2) Deduksi probabilistik dan deduksi apriori (spekulatif)

3 Model Konstruksi Teori :
  •  Model Korespondensi : kebenaran sesuatu dibuktikan dengan menemukan relevansinya dengan yang lain.
  • Model Koherensi : sesuatu dianggap benar bila sesuai dengan moral tertentu. Mementingkan kesesuaian antara kebenaran obyektif, rasioanal universal dan kebenaran moral atau nilai.
  • Model Paragdimatis : konsep kebenaran ditata menurut pola hubungan yang beragam, menyederhanakan yang kompleks.
Aliran dalam Konstruksi Teori :
  • Reduksionisme : teori itu suatu pernyataan yang abstrak, tidak dapat diamati secara empiris, dan tidak dapat diuji langsung.
  • Instrumentalisme : teori adalah instrumen bagi pernyataan observasi agar terarah dan terkonstruksi.
  • Realisme : teori dianggap benar bila real, secara substantif ada, bukan fiktif.  
CRITICAL THINKING
Berfikir kritis ialah meransionalisasi kehidupan manusia dan secara hati-hati mengamati atau memeriksa proses berpikir sebagai dasar untuk mengklarifikasi dan memperbaiki pemahaman kita tentang sesuatu (Chaffee, 1990)

Karakteristik Berfikir Kritis:
  • Rasional, reasonable, reflektif (berdasarkan alasan-alasan dan bukti-bukti, bukan atas dasar keinginan pribadi)
  • Otonomi (tidak mudah di manipulasi)
  • Melibatkan skeptis yang sehat  dan konstruktif (tidak menerima atau menolak ide-ide kecuali karena mengerti hal tersebut)
  • Adil (tidak bias atau berpihak)
  • Dapat dipercaya dan dilakukan.
5 Model Berpikir Kritis, yaitu:
  • Total Recall (Pemanggilan Total)
  • Habits (Kebiasaan)
  • Inquiry (Pencarian Informasi)
  • New ideas and creativity (Ide-ide Baru dan Kreatifitas)
  • Knowing how you think (Mengetahui apa yang anda pikirkan) 
Semua materi yang ada di atas, di kutip dari PPT Pembelajaran yang diberikan oleh dosen. 

  
                        

Logika (Pertemuan keempat)

LOGIKA

APA ITU LOGIKA????
Bahasa Yunani: Logikos => sesuatu yang diungkapkan lewat bahasa. Pertama kali istilah ini oleh Zeno dari Citium (334-262 sebelum Masehi).
Logika adalah cabang dari filsafat yang mempelajari, menyususn, dan membahas asas-asas atau aturan formal serta kriteria yang sahih bagi penalaran dapat penyimpulan untuk mencapai kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan secara rasional.

Obyek Logika :
  • Obyek Material = logika adalah manusia itu sendiri
  • Obyek Formal = logika adalah kegiatana akal budi untuk melakukan penalaran yang tepat yang tampak melalui ungkapan pikiran melalui bahasa.
Manfaat Mempelajari Logika :
  • Membantu setiap orang untuk mampu berfikir kritis, rasional, metodis.
  • Kemampuan meningkatkan kemampuan bernalar secara abstrak.
  • Mampu berdiri lebih tajam dan mandiri.
  • Menambah kecerdasan berpikir, supaya tidak terjadi kesesatan dan kekeliruan dalam menarik sebuah kesimpulan.
Macam-macam Logika :
  1. Logika Kodrati : suatu suasana saat akal budi bekerja menurut hukum secara lohika, secara spontan terjadi.
    Contoh : Kakek menyuruh Budi mengambil cangkul di belakang rumah. Budi tidak perlu bertanya mengapa karena itu perintah dari kakeknya.
  2. Logika Ilmiah : berusaha mempertajam akal budi manusia agar dapat bekerja lebih teliti atau tepay, sehingga tidak terjadi kesesatan.
     Contoh: Kita mempelajari budaya di suatu lingkungan agar kita mempunyai persepsi yang sama dengan masyarakat di lingkungan itu supaya kita bisa beradaptasi dan mempertanggungjawabkan perilaku kita.
  3.  Logika Formal :  logika yang berbicara tentang kebenaran bentuk, yang disebut juga logika minor. Sebuah argumen mempunyai kebenaran bentuk, apabila konklusinya kita tarik secara logis dari premis atau titik pangkalnya dengan mengabaikan isi yang terkandung dalam argumentasi tersebut.
Contoh: 
-Semua buruh adalah penerima gaji.
-Semua guru adalah penerima gaji.
-Jadi, buruh adalah guru. 
Contoh di atas memperlihatkan susunan penalaran yang tidak tepat, dan tidak memiliki kebenaran bentuk.

-Semua anak psikologi UNTAR harus memakai name tag.
-Natali memakai name tag.
-Jadi, Natali adalah anak psikologi UNTAR.
Contoh penalaran diatas adalah benar sebab konklusinya diturunkan secara logis dari titik pangkalnya. 
  1. Semua M adalah P
  2. Semua S adalah P
  3. Jadi, semua S adalah P.
Pola susunan penalaran itu disebut bentuk penalaran. Penalaran yang tepat disebut penalaran yang tepat atau sahih ( valid ). 

        4.  Logika Material / Isi : logika yang membahas tentang kebenaran isi. Disebut juga logika        
             mayor.

Contoh:
p1: Semua manusia memiliki uang
p2: Ismi memiliki uang
k: Jadi, Ismi adalah manusia.
Kalau kita sesuaikan dengan kenyataan, jelaslah isi dari 3 pernyataan itu adalah benar.




LOGIKA INDUKTIF
 Penalaran induksi adalah cara kerja ilmu pengetahuan yang bertolak dari sejumlah proposisi tunggal atau partikular tertentu untuk menarik kesimpulan yang umum tertentu. Dengan kata lain, atas dasar fenomena, fakta atau data tertentu dirumuskan dalam proposisi tunggal tertentu, ditarik kesimpulan yang dianggap sebagai benar dan berlaku umum.
Contoh:
Kintan bertemu seorang cewek. Lalu Kintan didekati oleh cewek tersebut dan meminta dibelikan suntik. Kintan melihat cewek itu ditangannya banyak goresan-goresan dan bekas suntikan. Keesokan harinya Kintan lewat situ lagi dan menemukan ciri-ciri yang sama tetapi berbeda orang. Akhirnya Kintan mengerti dan mengambil kesimpulan bahwa mereka-mereka itu adalah pemakai narkoba. Kesimpulan ini Kintan ambil karena Kintan mengambil kesimpulan bahwa semua orang-orang yang seperi itu dan berada ditempat kejadian itu adalah pemakai narkoba.

Faktor-faktor yang menyebabkan kesesatan dalam penalaran induktif : 
1. Faktor tergesa-gesa
2. Faktor ceroboh
3. Faktor prasangka

Hubungan Sebab Akibat : 
- Bentuk penalaran induksi yang ketiga adalah hubungan sebab akibat. Prinsip umum sebba akibatt menyatakan bahwa "suatu peristiwa pasti disebabkan oleh sesuatu." Hubunagn sebab akibat seringkali dikaitkan bahwa keadaan yang terjadi disebabkan oleh keadaan atau kajadian lainnya. Kejadian yang lainnya disebut sebab da yang tejadi adalah akibat

Pola Akibat ke Sebab : 
Suatu hari saya bersama rekan-rekan hwndak pergi ke pantai di Bandung. Karena bis yang disewa sesak dengan penumpang, maka saya memilih menggunakan mobil pribadi. Ketika dalam perjalanan mobl saya mengalami gangguan dan mogok. Mobil mogok adalah akibat dari sesuatu, dan sesuatu itu yang menjadi sebabnya.

Pola Akibat ke Akibat : 
Saya buru-buru pulang ke rumah, dan diperjalanan perut saya mulas karena lupa makan siang. Dalam perjalanan saya melihat jalanan becek. Sampai di rumah saya melihat halaman basa, kemudian saya teringat akan pakaian yang saya jemur tadi pagi, saya berpikir bahwa pakaian itu pasti sudah basah. Pakaian basah bukan karena jalan yang becek dan halaman yang basah, melainkan karena hujan. Kedua fenomena itu tidak saya pikirkan lagi, yaitu bahwa hujan yang turun.


LOGIKA DEDUKTIF
Penalaran deduktif selalu diungkapkan dalam bentuk silogisme. Dengan kata lain bahwa silogisme lah yang menjadi medium pengungkaoan penalaran deduktif.
  • Silogisme adalah suatu bentuk argumentasi yang bertitik tolak pada premis-premis dan premis-premis itu ditarik kesimpulan. Dengan demikian, silogisme dapat dipahami sebagai suatu jenis penarikan kesimpulan yang didasarkan pada premis-premis yang sudah diektahui.
  • Premis-premis dari suatu argumentasi deduktif yang tepat berisi semua bukti yang disbutuhkan untuk membuktikan kebenaran suatu kesimpulan. Dalam arti apabila premis-premis benar maka kesimpulan akan benar
  • Benar salahnya kesimpulan deduktif berdasarkan rujukan realitas, argumentasi-argumentasi dedukti yang memiliki kekhasan tersendiri. Argumentasi-argumentasi dinilai lebih berdasarkan atas sahih (valid) atau tidak valid.
Ciri-ciri Silogisme :  
  1. Semua kenyataannya (proporsisi) adalah proposisi kategoris.
  2. Terdiri dari 2 premis dan sebuah kesimpulan.
  3. 2 premis dan satu kesimpulan secara bersama-sama membuat 3 term (kata) yang berbeda dan masing-masing term tampak di dalam 2 dari 3 proposisi. 
  • Premis Mayor : Setiap cendekiawan adalah kaum intelektual
  • Premis Minor : Psikolog adalah cedekiawan
  • Konklusi : Jadi, Psikolog adalah kaum intelektual
Pengakuan predikat "kaum intelektual" terhadap subyek "setiap cendekiawan" bersifat langsung. 


Semoga bermanfaat :)  

Subyektivisme dan Obyektivisme

 SUBYEKTIVISME & OYEKTIVISME


 Subyektivisme

Arti = Pengetahuan dipahami sebagai keyakinan yang dianut oleh individu.

Ciri-ciri Pendekatan Subyektivisme :
  1. Menggagas pengetahuan sebagai suatu keadaan mental yang khusus, seperti kepercayaan yang istimewa.
  2. Pengalaman subyektif (kokoh terjamin) sebgaia titik tolak dari data inderawi diri sendiri.
  3. Prinsip subyektif tentang alasan cukup, karena pemngalaman yang bersifat pribadi, benar secara pasti dan meyakinkan karena berlaku sebagai pengetahuan yang langsung dari subyeknya. 
  • Menurut Rene Descartes => "Cogito ergo sum cogitans" : "Saya berfikir maka saya ada" maksudnya adalah  kalau kita melihat, mendengar, merasa, senang atau sakit, kehendak (seluruh kegiatan sadar) masuk dalam kegiatan "berpikir."
  • Menurut Realisme Epistemologis => Berpendapat bahwa kesadaran itu menghubungkan "saya" dengan "apa yang lain" dari "saya"
  • Menurut Idealisme Epistemologis => Berpendapat bahwa setiap tindakan mengetahui berakhir di dalam suatu ide, yang merupakan suatu peristiwa subyektif murni.
  • Bahwa semua pengetahuan tentnag sesuatu "yang bukan aku" atau "yang diluar diri sendiri" harus diragukan kebenarannya. Karena pengetahuan yang bukan "aku" merupakan pengetahuan yang tidak langung.
Rene Descartes menolak Skeptisme yang membawanya justru ke arah subyektivisme.

  1. Sikap dasar skeptisisme adalah kita tidak pernah tau tentang apapun.
  2. Menurut penganut skeptisisme musathil manusia mencapai pengetahuan tentnag sesuatu, atau paling kurnag manusia tidak pernah merasa yakin apakah dirinya dapat mencapai pengetahuan tertentu.
  3. Skeptisisme mergu-ragukan kemungkinan bahwa manusia bisa mengetahui sesuatu karena tidak ada bukti ynag cukup kalau manusia benar-benar tahu akan sesuatu.
Rene Descartes seorang rasionalis
  1. Baginya rasio/pikiran adalah satu-satuny sumber dan jaminan kebenaran pengetahuan
  2. Descartes mergaukan pengalaman inderawi dalam menjamin kebenaran pengetauhan, termasuk pengetahuan tentag dunia luar kita.
  3. Menurut Descartes bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa dapat saja secara lansung memunculkan data-data indra dalam kseadaran kita tanpa harus ada "dunia luar" yang menjadi dasar. Indera dapat memberi pengetahuan tentang dunia fisik yang dapat dipercayai.
Rene Descartes ke dalam posisi ekstrim yang disebut Solipisme ("ia pada dirinya sendiri")
  1.  Keberadaan atau pengetahuan mengenai "yang lain" atau "yang bukan diri sendiri" hanya dapat disimpulkan secara tidak langsung dari kebenaran dan pengetahuan mengenai diri sendiri.
  2. Keberadaan sesuatu di luar diri atau "yang bukan aku" dalam pengalaman sehari-hari seperti gejala dari bahasa. Berkaitan dengan gejala bahasa bahwa melalui pengalaman sehari-hari terjadinya dialog, yang mengandaikan adanya orang lain. Dalam keseluruhan proses dialog adanya subyek lain atau dia yang menjadi lawan bicaraku.
Obyektivisme
 
Arti = Suatu pandangan yang menekankan bahwa butir-butir pengetahuan manusia - dari soal yang sederhana sampai teori yang kompleks, yang mempunyai sifat dan ciri yang melampaui keyakinan dan kesadaran individu.
Pengetahuan diperlakukan sebagai sesuatu yang berada di luar dibandingkan yanga da di dalam pikiran manusia tersebut. Pandangan ini didukung oleh : Popper, Latatos, dan Marx.
  • Obyektivisme merupakan pandangan bahwa obyek yang kita persepsikan melalui perantara indera kita itu ada dan bebas dari kesadaran manusia.
  • Obyektivisme beranggapan bahwa pada tolak ukur suatu gagasan berada pada objeknya.
  • Obyektivisme diartikan sebagai pandangan yang menganggap bahwa segala sesuatu yang di fahami adalah tidak tergantung pada orang yang memahami.
Ada 3 pandangan dasar Obyektivisme :
  1. Kebenaran itu independen terlepas dari pandang subjektif.
  2. Kebenaran itu datang dari bukti yang faktual
  3. Kebenaran hanya bisa didasari dari pegalaman inderawi.
Pandangan-pandangan ini sangat dekat dengan positivisme dan empirisme.

Pengetahuan dalam pengertian Obyektivis:
  1. Sepenuhnya indepneden dari kalim untuk mengetahuinya
  2. Pengetahuan itu terlepas dari keyankianan seseorang/ kecenderungan untuk menyetujuinya atau memakainya untuk bertindak.
  3. Pengetahuan dalam pengertian obyektivis adalah pengetahuan tanpa orang: ia adalah oengetahuan tanpa diketahui subjek". (Karl R. Popper)
  4. Obyek-obyek memiliki kualitas-kualitas yang sama seperti yang disajikan kepada persepsi, sehingga tindakan persepsi tidak mengubah sedikitpun obyek tersebut.


Para Filsuf Sokratik menganggap perlu untuk kita memperbaiki beberapa keyakian harian kita, yaitu: meletakkan "kesalahan" pada indera, karena sebenarnya indera tidak pernah salah.

Untuk mempercayai kebenaran kesaksian inderawi, beberapa syarat harus dipenuhi:
  1. Obyek harus sesuai dengan jenis indera kita.
  2. Organ indera harus normal dan sehat.
  3. Karena Obyek ditangkap oleh medium, maka medium itu harus ada.
Obyetivisme terbagi dua, yaitu:

 Obyek Khusus yaitu data yang ditangkap hanya satu indera. Seperti = warna, suara, bau.

Obyek Umum yaitu data yang dapat ditangkap oleh lebih dari satu indera. Seperti = Keluaan dan gerakan yang dapat dilihat dan diraba atau oleh indera lainnya.